Kaki
Oleh:
Izzatul Millah
Pagi ini, ada banyak
kebingungan yang merajam dada dan pikiran. Semuanya menggelayut tanpa tali.
Seperti hantu yang tiba-tiba mengeksplorasi suasana menjadi lebih mencekam.
Disini bukan goa hantu atau gedung tak terpakai berabad-abad, melainkan gedung
dengan berbagai fasilitas keilmuan yang mumpuni. Namun lorong-lorongnya seakan
menghimpit. Membuat kebekuan yang tak berkesudahan. Disini tak gelap seperti
saat malam tak mampu mengundang rembulan. Ada beberapa lampu yang menyala. Yah,
cahaya matahari dipadu cahaya lampu. Bisa dibayangkan terangnya, secara logika.
Namun ketahuilah, dalam keterangan seperti inilah semuanya menjadi menakutkan.
Sangat menakutkan. Ngawur! Kursi-kursi bertumpukan dipenuhi debu. Orang-orang
seakan bergerak pelan dengan mata kecil yang menyeramkan. Semua bisa mendengar
bahwa disini ramai. Namun tak terlihat satupun bibir yang bergerak. Tak ada
satu tenggorokan pun yang bergetar. Lalu apa? Ya, benar. Kaka-kaki tergantung
menendang-nendang meja sehingga bunyinya sama seperti detak jantung. Ia yang
ramai. Sepasang kaki dengan sepatu coklat tua dan kaos kaki berwarna coklat
muda. Kakinya tak berdarah, namun berlumut disepanjang pinggirannya. Bukan
lumut, sebab warnanya hitam. Namun, bisa jadi. Mari namakan lumut saja!
Lumut-lumut itu kemudian
menggumpal jadi daging. Semakin lama, daging itu semakin mengeras, dan melembut
kembali. Perpaduan antara keras dan lembut. Tak tahu apa jadinya, namun
akhirnya terdeteksi bahwa lumut-lumut itu menjadi sepasang kaki.
Menendang-nendang meja pula seperti halnya kaki-kaki yang sejak tadi mengadu
suara meja dan detak jantung. Dari sini semua dapat dimengerti bahwa kaki-kaki
ini adalah lumut. Bekejaran dan saling mencibir.
Tiba-tiba saja terdengar
jeritan halus dari udara “28 Oktober 2013.” Memberikan beberapa pengertian
nyata mengenai tanggal, bulan, tahun, kaki, cekam, bingung, rajam, himpit dan
beku. Nyatanya, hari ini adalah hari peringatan “Sumpah Pemuda” dan kaki-kaki
itu, berpura-pura memperingatinya. Berpura-pura mempunyai rasa nasionalisme
dalam dirinya. Berpura-pura begitu dalam memaknainya. Nyatanya, hal itu malah
seperti halnya cibiran. Bukankah seharusnya sebagai kaki-kaki yang hidup
setelah kemerdekaan, dituntut untuk menjaga hasil perjuangan para pahlawan.
Namun pada kenyataannya, hanya sehari saja perjuangan para pahlawan diingat.
Hanya pada hari-hari bersejarah saja. Sedangkan setiap harinya, banyak sekali
tindakan-tindakan menyimpang yang mampu merusak bahkan membobrokkan negara.
Kaki-kaki itu semakin keras
menggedor meja. Namun tiba-tiba semua tiarap. Kemana? Siapa yang akan menjawab
pertanyaan bodoh ini? Semua sudah tahu, bahwa mereka masih dengan mata kaki
tertutup. Tak akan jauh pergi, kecuali mereka mau menggeser hati mereka hingga
berada ditempat yang sebenarnya.
Tulisan ini tak berarti,
namun perhatian pembaca sangatlah penting.
Surabaya, 28 Oktober
2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar