Rabu, 06 November 2013

Kaki



Kaki
Oleh: Izzatul Millah

Pagi ini, ada banyak kebingungan yang merajam dada dan pikiran. Semuanya menggelayut tanpa tali. Seperti hantu yang tiba-tiba mengeksplorasi suasana menjadi lebih mencekam. Disini bukan goa hantu atau gedung tak terpakai berabad-abad, melainkan gedung dengan berbagai fasilitas keilmuan yang mumpuni. Namun lorong-lorongnya seakan menghimpit. Membuat kebekuan yang tak berkesudahan. Disini tak gelap seperti saat malam tak mampu mengundang rembulan. Ada beberapa lampu yang menyala. Yah, cahaya matahari dipadu cahaya lampu. Bisa dibayangkan terangnya, secara logika. Namun ketahuilah, dalam keterangan seperti inilah semuanya menjadi menakutkan. Sangat menakutkan. Ngawur! Kursi-kursi bertumpukan dipenuhi debu. Orang-orang seakan bergerak pelan dengan mata kecil yang menyeramkan. Semua bisa mendengar bahwa disini ramai. Namun tak terlihat satupun bibir yang bergerak. Tak ada satu tenggorokan pun yang bergetar. Lalu apa? Ya, benar. Kaka-kaki tergantung menendang-nendang meja sehingga bunyinya sama seperti detak jantung. Ia yang ramai. Sepasang kaki dengan sepatu coklat tua dan kaos kaki berwarna coklat muda. Kakinya tak berdarah, namun berlumut disepanjang pinggirannya. Bukan lumut, sebab warnanya hitam. Namun, bisa jadi. Mari namakan lumut saja!
Lumut-lumut itu kemudian menggumpal jadi daging. Semakin lama, daging itu semakin mengeras, dan melembut kembali. Perpaduan antara keras dan lembut. Tak tahu apa jadinya, namun akhirnya terdeteksi bahwa lumut-lumut itu menjadi sepasang kaki. Menendang-nendang meja pula seperti halnya kaki-kaki yang sejak tadi mengadu suara meja dan detak jantung. Dari sini semua dapat dimengerti bahwa kaki-kaki ini adalah lumut. Bekejaran dan saling mencibir.
Tiba-tiba saja terdengar jeritan halus dari udara “28 Oktober 2013.” Memberikan beberapa pengertian nyata mengenai tanggal, bulan, tahun, kaki, cekam, bingung, rajam, himpit dan beku. Nyatanya, hari ini adalah hari peringatan “Sumpah Pemuda” dan kaki-kaki itu, berpura-pura memperingatinya. Berpura-pura mempunyai rasa nasionalisme dalam dirinya. Berpura-pura begitu dalam memaknainya. Nyatanya, hal itu malah seperti halnya cibiran. Bukankah seharusnya sebagai kaki-kaki yang hidup setelah kemerdekaan, dituntut untuk menjaga hasil perjuangan para pahlawan. Namun pada kenyataannya, hanya sehari saja perjuangan para pahlawan diingat. Hanya pada hari-hari bersejarah saja. Sedangkan setiap harinya, banyak sekali tindakan-tindakan menyimpang yang mampu merusak bahkan membobrokkan negara.
Kaki-kaki itu semakin keras menggedor meja. Namun tiba-tiba semua tiarap. Kemana? Siapa yang akan menjawab pertanyaan bodoh ini? Semua sudah tahu, bahwa mereka masih dengan mata kaki tertutup. Tak akan jauh pergi, kecuali mereka mau menggeser hati mereka hingga berada ditempat yang sebenarnya.
Tulisan ini tak berarti, namun perhatian pembaca sangatlah penting.


Surabaya, 28 Oktober 2013

Tidak ada komentar: