Oleh:
Izzatul Millah
Hari
pertama masuk kuliah. Bukan suasana yang baru. Bukan teman-teman yang baru.
Bukan baju baru. Bukan sepatu baru. Bukan tas baru. Dan bukan segala hal-hal
material yang baru. Tapi saya merasakan semangat yang baru. Tekad besar tengah merajai
diriku setelah semalam dihantam beribu motivasi. Ah, betapa nikmatnya hidup ini
ketika semangat diri membara. Membakar seluruh perasaan malas dan capek.
Rasanya, hidup ini lebih berharga dan bermakna.
“Awal
yang baik akan memberikan hasil yang baik pula.”
Tetap
saja kalimat itu yang terus menggeliat di benak saya. Mengingat kalimat itu
berulang-ulang membuat saya berusaha sebaik mungkin membuat awal yang baik
bahkan luar biasa setiap harinya. Meskipun sampai saat ini, saya masih
mengawalinya di lingkungan kampus saja.
Didekat
tangga setiap perkuliahan berakhir, saya selalu melafalkan kata tersebut. Ya,
kata ajaib.
“Fatihah.”
Satu
kata yang saya dapat dari salah satu teman saya pun tetap tak mampu, bahkan tak
mau saya lupakan sampai kapanpun. Karena satu kata itu sangat membantu saya.
Membantu menenteramkan hati dan pikiran saya saat tengah menerima materi dari
para dosen. Rasanya, dosen-dosen yang dulu saya pandang sedikit menakutkan,
kini beliau-beliau terasa lebih akrab dengan saya. Sekalipun tidak ada
percakapan apapun antara saya dan dosen, tapi saya merasa lebih nyaman diajar
beliau. Tatapan beliau begitu meneduhkan. Alhamdulillah.
3
hari kuliah, sedangkan 4 hari libur membuat saya sedikit merasa tak enak. Karena
selama 4 hari, saya merasa tak melakukan apapun yang berguna. Hanya tidur dan
tidur. Sungguh membosankan. Akhirnya, saya merasa tubuh saya begitu kaku dan
sangat sakit. Selama 4 hari pula kepala saya pening akibat terlalu banyak
tidur. Sungguh keadaan yang tak diharapkan.
Namun
disela-sela rasa sakit dan pening saya, pada hari kamis saya menyelesaikan
opini pertama saya di minggu ini. Judulnya “Pemimpin Pintar atau Jujur?”.
Ide opini ini saya ambil dari diskusi teman-teman di kelas dengan salah seorang
dosen perempuan. Ditambah lagi ada berita mengenai nasehat KH Hasyim Muzadi
untuk para calon MK. Ah, lengkap sekali. Dan opini itu pun saya kirim ke media
massa. Akhirnya, pada hari Sabtu saat baru bangun tidur, saya melihat koran di
atas pintu belum tersentuh. Saya berniat mengambilnya setelah mencuci muka.
Dengan santai tanpa pengharapan apapun saya ambil koran Kompas dan Duta.
Bukannya saya tak berharap tulisan saya dimuat, tetapi pada hari Jumat saya
sedikit merasa kecewa karena opini saya belum termuat. Maka dari itu saya tak
mengharapkan apa-apa lagi. Hingga kemudian saya buka halaman 2 (kalau tidak
salah) koran Duta Masyarakat, dan ternyata opini saya terpampang disitu. Betapa
bahagianya saya. Bukan karena saya akan mendapat honor, tapi karena salah satu
target saya dibulan Maret ini telah terpenuhi. Alhamdulillah. Sungguh tak ada
yang perlu di ragukan atas nikamat yang Tuhan berikan. Ia selalu memberi
kejutan-kejutan yang tak pernah disangka hamba-Nya.
-Sungguh minggu yang indah dan menegangkan-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar