Rabu, 04 Desember 2013

ٌRA


“Aku sudah mencobanya.”
“Mencoba apa? Kalau kau sudah mencoba memahamiku, seharusnya kau tak akan pernah lagi bersikap begitu.” Ia membentak. Dan aku hanya bisa diam. Tak akan ada gunanya lagi mengeluarkan pendapat, sekalipun aku berada dipihak yang benar karena ia hanya mau menang sendiri. Sikap itu yang tidak aku suka, dan sejak kita memulai hubungan 3 tahun yang lalu, ia bahkan tak pernah berusaha mengubah sikapnya.
Aku bungkam. Pulang dengan perasaan tak menentu antara kesal dan rasa sayang. Kuberjalan tergesa-gesa, hatiku menuntut untuk segera pulang dan meluapkannya di fb. Itulah satu-satunya jalan yang bisa aku tempuh untuk meluakan segalanya, karena hidupku sekarang bukanlah hidupku yang dulu. Tak ada seorang pun yang mampu kupercaya di dunia nyata.
“Aku sudah mencobanya. Mencoba memahami engkau. Tapi pernahkan sekali pun kau menghargai usahaku? Pernahkah engkau mencoba memahamiku pula? Aku capek begini terus. Menghadapi engkau yang hanya mau dipahami tanpa mau memahami.” Begitulah statusku setelah pertemuan terakhirku dengannya disebuah taman dipusat kota. Dan setelah itu, kita tak pernah bertemu lagi. Entah bagaimana hubungan kita, semuanya seakan telah berakhir tanpa kata.
Sakit sekali rasanya digantung, sedangkan rasa sayang itu masih melekat dalam dada. Namun satu hal lagi yang membuat rasa sakit itu semakin perih; aku sudah tidak perawan lagi. Aku seakan tak punya kesempatan lagi untuk memiliki cinta. Tak akan mungkin ada lagi yang mau menjadikanku pendamping hidupnya, karena aku sudah menjadi wanita hina. Dia benar-benar telah menghancurkan hidupku.
Sulit sekali menjalani ini seorang diri. Namun aku sudah bertekat untuk tetap bertahan, meskipun pada akhirnya aku harus hidup sebatangkara selama hidupku. Namun rupanya Tuhan punya rencana lain untuk hidupku. Tak lama setelah kejadian itu, seseorang melamarku. Seseorang yang sejak dulu aku kagumi karena kecerdasan dan sikapnya yang begitu sopan. Hanya sekedar kagum. Bukan cinta. Sudah sejak sekolah dasar aku mengaguminya. Bahkan dulu, kita sempat dikabarkan memiliki hubungan. Meskipun sebenarnya tidak sama sekali. Bagi dia, berpacaran merupakan hal yang tidak mungkin karena ia begitu patuh kepada keluarganya. Keluarganya, bagiku bukan keluarga biasa. Mereka adalah keturunan darah biru, dan mereka juga bisa mengetahui apapun yang ingin mereka ketahui tanpa menanyakan pada orangnya. Aku sering merasa kikuk saat berada di sekitar keluarganya, karena aku bukan lagi Dila yang polos dan suci. Bahkan sekarang pun, aku menjadi Dila tanpa harga diri. Tanpa keperawanan lagi. Dan itu karena orang yang sampai saat ini masih kusayangi, sayangnya ia telah pergi. Kafi.
“Dia sudah tidak perawan, Ra.” Ucap ibuku kepada Ra Kiki, orang yang melamarku saat tinggal mereka berdua di ruang tamu. Sedangkan aku, mengupingnya dari dalam kamar yang dekat dengan ruang tamu. Aku memang sengaja menyuruh ibu yang sebenarnya pada saat itu sangat marah mengetahui aku sudah tidak perawan. Namun beliau pun tak mampu mengusirku. Aku melakukan itu semua karena aku tidak ingin menjadikan orang lain korban atas kesalahanku. Hening sejenak. Tak ada satu suara pun dari Ra Kiki maupun ibu. Aku sudah pasrah. Walaupun awalnya aku berharap Ra Kiki mau menerimaku apa adanya, tapi dikala hening seperti ini, dikala Ra Kiki masih dengan pikirannya sendiri rasa takut itu muncul, dan akhirnya aku pasrah. Pasrah pada apa yang akan Ra Kiki putuskan.
Wanita mana yang tidak ingin menikah semasa hidupnya? Sekalipun ia sudah menjadi wanita hina. Tapi apa yang bisa kulakukan sedangkan aku sudah tak punya hal spesial yang akan aku berikan kepada suamiku kelak? Selain kepasrahan tentunya. Selain ketaatan. Namun siapa yang mau menjadikanku istrinya? Aku sudah kotor.
Banyak sekali hal yang aku pikirkan sejak keheningan antara ibu dan Ra Kiki tercipta. Luka yang masih menganga itu kian bernanah. Semakin perih rasanya. Dan tak tertahankan. Tak ada pilihan lain, akhirnya satu-satunya pelarianku hanyalah menangis. Menangisi apa yang telah terjadi. Menangisi kecerobohanku. Menangisi kekalahanku. Sungguh, dari sini aku tahu bahwa aku bukan wanita tegar.
“Saya sudah tahu sebelumnya. Saya dan keluarga juga sudah mempertimbangkannya. Saya akan tetap menikahinya, Bu.” Ucap Ra Kiki pada akhirnya.
Ucapannya lirih, namun tak membuatku ragu. Lirih namun mantap. Kalimat syukur terus kulantunkan. Air mataku kini semakin deras, namun bukan lagi karena sakit, melainkan haru. Sungguh, setelah keterpurukanku, tak sedikitpun terpikir bahwa Ra Kiki akan datang dengan cintanya yang tulus. Namun apa benar ia mencintaiku? Jangan-jangan ia hanya kasihan terhadapku yang sudah hina ini? Tapi aku sudah tak peduli, kebahagiaan ini menutupi segalanya. Aku sangat bersyukur, terima kasih Tuhan!
Sudah satu bulan kami menikah. Aku begitu bahagia berada di dekatnya. Aku merasa begitu damai memandangnya. Ia seperti seorang malaikat. Kebahagiaan ini, sedikit demi sedikit mengobati hatiku yang lara. Perlahan-lahan, Kafi mulai menghilang dari hatiku. Kalimat syukur itu, tak pernah sekalipun lupa kupanjatkan. Kalimat syukur itulah yang juga membuatku merasa bahwa ini sudah lebih dari cukup. Bahwa keadaan seperti ini sudah terlalu sempurna bagiku sebagai wanita hina.
Aku tidak memaksa hatiku untuk tetap bersuka cita, karena aku pun tahu diri. Aku menyadari siapa diriku. Memang sebaiknya aku tidak berharap banyak. Aku tidak mempersoalkannya. Aku sudah cukup lega menjadi istri Ra Kiki, meskipun ada satu hal yang membuatku tidak bisa untuk tidak sakit. Sejak pernikahan kami, hingga bulan pertama ini, tak sedikit pun Ra Kiki menyentuhku secara sengaja, kecuali pada saat bersalaman sehabis shalat, atau ketika ia akan pergi dan pulang kembali ke rumah. Kami memang tidur seranjang. Namun Ra Kiki tidak pernah sekalipun tidur menghadapku. Ia hanya tidur terlentang, atau membelakangiku. Wajar jika aku merasa sakit diperlakukan seperti itu, namun aku tak seharusnya berharap banyak. Sudah untung dia mau menikahiku.
Dua bulan sudah kami menikah, namun suasana dan sikapnya masih saja belum berubah, hingga rasa sakit itu semakin membuatku tersiksa. Hingga suatu pagi dihari libur, ia sedang membaca buku di kamar. Setelah selesai semua pekerjaan dapur, aku putuskan untuk mendekatinya dan membicarakan segalanya.
Ia tersenyum saat menyadari aku duduk di sampingnya. Namun kemudian, ia kembali mengalihkan perhatian pada buku yang dibacanya. Sedangkan aku masih terus diam, tak tahu harus memulai pembicaraan ini darimana.
“Ra, bisa kita bicara sebentar?” Tanyaku ragu.
“Ya, silahkan!” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.
“Kenapa Ra tidak pernah menyentuhku layaknya suami istri.” Aku semakin gugup. Ia terdiam sejenak, lalu menutup buku yang ia baca dan meletakkannya.
“Maafkan aku, Dila.” Ucapnya tanpa melihatku. “Aku masih tidak bisa.” Lanjutnya setelah mengambil nafas panjang. Aku hanya mengerutkan kening. Sungguh, aku tidak paham apa yang sedang ia bicarakan. “Kamu seakan bukan milikku.” Tiba-tiba aku memahami apa yang sedang ia bicarakan. Aku memahami apa yang ia maksud. Dan rasanya sakit sekali. Aku mencoba menahan sakit itu, sayangnya air mataku tak mampu kutahan. Ia mengalir deras.
“Tidak apa-apa, Ra. Memang seharusnya Ra tidak menikahiku. Aku juga sadar diri, bahwa seharusnya yang Ra dapatkan bukan aku, melainkan perempuan baik-baik dan masih suci.” Setelah mengucapkan kalimat itu, aku segera bangkit meninggalkan Ra sendirian di kamar. Aku berjalan ke dapur dengan rasa sakit yang begitu mencekam. Aku menangis sepuasnya di dapur. Luka lama itu, kembali bernanah.
Semakin hari, luka di hati semakin tak tersembuhkan. Ia merebak kemana-mana. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari kegiatan yang mampu mengalihkan perhatianku. Dan satu-satunya hal yang bisa aku lakukan di rumah, dan itu mampu meredam kesakitanku hanyalah menulis. Setiap hari, aku intens menulis. Entah itu puisi, cerpen, opini, atau resensi. Dan tak lupa pula kukirimkan karyaku ke media massa seperti koran. Hingga suatu hari, aku menyelesaikan sebuah novel. Dengan berbekal keberanian, kukirim naskah novelku ke sebuah penerbit terkemuka. Setiap hari aku menantinya. Namun, selalu kecewa.
Suatu pagi, saat tengah sibuk memasak, tiba-tiba hpku berdering. Ra sedang mandi. Dengan setengah berlari, aku mengambil hp di kamar. Nomor baru, tanpa pikir panjang, kuangkat telpon tersebut.
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikum salam, apa benar ini dengan Mbak Dila?” Tanyanya dari seberang.
“Ya benar, ini siapa?”Jawabku dengan napas masih terengah-engah.
“Begini bu, ini mengenai naskah novel yang ibu kirimkan beberapa bulan lalu. Oh ya maaf, saya dari penerbit A. Kami sudah mempertimbangkan naskah ibu, dan menurut kami, naskah ibu layak dibukukan.” Tiba-tiba semua hening, aku masih kaget. Ini seperti mimpi. Aku telah menunggunya berhari-hari. Dan akhirnya, penantianku tidak sia-sia. Aku begitu senang. Setelah telpon ditutup, aku segera menuju kamar madi. Ra masih di dalam.
“Ra, aku ingin minta izin.” Teriakku.
“Ya, sebentar lagi aku keluar, Dila.” Jawabnya dari dalam.
Dengan masih semangat, aku kembali ke dapur. Kebahagiaan ini serta merta menghapus segala kesedihan yang setiap hari menggerogoti dada. Tak sabar rasanya ingin menceritakan segalanya kepada Ra. Meskipun nantinya respons Ra akan biasa-biasa saja, tidak apa-apa. Aku hanya ingin membagi kebahagiaanku dengan orang yang begitu kusayang.
“Ada apa, Dila?” Tanyanya saat aku menemuinya di kamar. Aku ceritakan apa yang aku alami tadi. Dan seperti yang aku duga, Ra hanya mengangguk-angguk.
“Apa tidak apa-apa bukuku diterbitkan, Ra?” Tanyaku dengan hati tak karuan.
“Dila, lakukan apapun yang bisa kamu lakukan. Aku akan selalu mendukungmu.” Mendengar jawabannya, aku sangat bahagia. Ingin rasanya kupeluk ia, namun aku tidak bisa. Aku masih takut.
Bukuku sudah tersebar di toko-toko buku. Aku begitu bahagia. Akhirnya aku menjadi penulis. Cita-citaku sejak dulu. Besok, aku diundang untuk menjadi narasumber dalam acara bedah buku pertamaku. Tak jauh-jauh, hanya di gedung B dekat kantor kecamatan.
Tepat di depan gedung A aku berdiri sekarang. Ra yang mengantarku, dan sekarang, ia harus pergi karena harus mengunjungi gurunya yang tengah sakit. Nanti, ia berjanji akan menjemputku kembali.
Banyak sekali yang datang malam ini. Aku sempat gugup, namun kebanggaanku mengalahkan segalnya. Aku masih di belakang panggung. Berusaha menenangkan kegugupanku. Kukatakan pada diriku bahwa hari ini, aku adalah orang yang paling hebat. Ini bukan kalimat kesombongan, namun ini kalimat penguat diri. Bismillah.
Ada banyak hal yang aku ceritakan di depan para audiens. Namun satu hal yang tetap kujaga, aku tidak ingin menceritakan kesakitanku akan sikap Ra padaku. Jadi, kuungkap saja hal-hal menyenangkan mengenai buku yang kubuat. Buku yang mengisahkan seorang perempuan yang dalam hidupnya selalu mengeluh dan tak punya pendirian, kemudian ia bertemu dengan seorang perempuan lain yang mengajarkan keteguhan bagi dirinya. Intinya, aku berharap tidak ada orang lain lagi yang berkecil hati saat ia berada pada posisi tersulit sekalipun. Atau bisa saja dikatakan bahwa buku ini salah satu motivasi bagiku untuk kuat. Buku percakapan diri.
Hampir satu jam aku berbicara di depan dengan beberapa lelucon yang kubuat. Rupanya aku masih belum berubah. Bagiku, menjadi orang yang serius sangatlah sulit. Pasti ada saja lelucon yang membuat orang lain tertawa. Meskipun kadang-kadang lelucon-lelucon itu secara spontan keluar dari diriku. Sekarang waktunya sesi tanya. Aku sudah merasa nyaman dengan keadaanku. Aku tidak lagi merasa grogi, semua yang ada disini aku anggap teman yang sudah lama tak berjumpa. Mekipun sedikit yang aku kenali.
“Saya ingin menanyakan satu hal kepada narasumber mengenai pendapatnya di buku ini, apa benar teori dalam buku ini mampu membuat diri tangguh? Kalau ya, tolong ceritakan darimana penulis mampu merumuskan teori-teori ini! Terima kasih.” Ucap penanya terakhir.
‘Deg’
Suara itu, suara yang sangat kukenal. Cara bicara yang amat lekat ditelingaku. Suara yang dulu selalu kurindukan. Spontan aku mengangkat wajah, rasa penasaran itu begitu kuat. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku sedang berhalusinasi. Namun rupanya aku salah. Ini bukan halusinasi, ia sekarang berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Pandangan matanya masih sama seperti dulu. Kafi. Tapi, Astaghfirullah, kita sudah beda jalan.
Hatiku mulai terusik. Ketenanganku terusik kembali. Kujawab pertanyaan-pertanyaan dengan hati tak karuan. Apalagi ketika tiba saat aku harus menjawab pertanyaannya, dengan kegugupan yang semakin menjadi, kujawab, kuceritakan pengalaman pahitku dengan mengubah beberapa alur yang menurutku tak perlu diceritakan kepada siapapun.
Akhirnya, selesai juga bedah bukuku kali ini. Ini pun juga mengakhiri kegugupanku. Aku segera menuju belakan panggung, sambil menunggu Ra Kiki menjemputku. Tapi hingga hanya ada panitia penyelenggara yang melakukan evaluasi dari acara tadi, Ra Kiki belum juga datang. Aku agak khawatir. Tapi entah khawatir karena apa. Tiba-tiba kekhawatiranku terjawab. Kafi muncul dari depan panggung. Aku semakin tak karuan. Entah, kenapa aku begitu gugup. Yang jelas, dalam kekhawatiranku, aku begitu merindukan Ra Kiki. Aku memandang lekat Kafi. Namun pikiranku berada di tempat Ra Kiki berada.
“Bagaimana kabarmu, De?” Tanyanya membuka kebekuan saat ia sudah duduk di depanku. Aku kaget sekaligus haru, dia masih memanggilku dengan panggilan “Dede”. Dulu, itu adalah sapaan sayang yang dia berikan padaku.
“Baik.” Jawabku pendek.
“Apa kau bahagia, De?” pertanyaannya menggetarkanku.
“Ya, tentu saja.” Jawabku tertekan. Dia hanya mengangguk. Aku mengalihkan pandangan, berharap Ra Kiki segera datang menjemput.
“Maafkan Kakak, De. Apa yang terjadi pada hubungan kita itu memang salah Kakak.” Ucapnya lirih. Hatiku bergetar mendengarnya mengungkap masa lalu. Masa lalu yang hingga kini sakitnya masih terasa. Dan saat ini, ia membuka kembali luka hingga sakitnya terasa semakin perih. Tiba-tiba aku ingin mengadukan semua yang terjadi dalam rumah tanggaku seperti halnya dulu ketika aku menghadapi kesulitan, maka dialah yang mampu kuajak bicara. Dia yang mau kuajak berbagi. Namun aku sadar, dia bukan lagi milikku. Dia bukan siapa-siapaku lagi. Akhirnya kupilih diam saja.
“Tapi bisakah kita menjadi seperti dulu? Kakak sungguh menyesal telah meninggalkan Dede begitu saja. Kakak sungguh kecewa pada diri Kakak sendiri karena telah mengingkari prinsip Kakak sendiri. Masih ingat prinsip Kakak, De? Hanya Dede yang akan Kakak nikahi. Kembalilah, dan penuhi apa yang sudah menjadi prinsip Kakak, De.” Ia berkata panjang lebar. Kalimat yang dari dulu kutunggu, namun baru ia lontarkan sekarang. Ia sungguh egois. Luka itu, rasanya semakin perih. Namun cinta itu tak lagi sebesar dulu. Ada lebih banyak kebencian padanya dalam diriku. Sungguh, ia manusia yang paling egois.
“Lo, Mbak Dila, kok belum pulang? Bukankah tadi Ra Kiki sudah kesini?” Ucap seorang panitia dari balik panggung.
“Kemana dia sekarang?” Tanyaku terkejut.
“Beliau sudah pulang. Saya kira tadi beliau bertemu dengan anda.” Mendengar penjelasannya, aku bergidik. Jangan-jangan ia melihat dan mendengar percakapanku dengan Kafi. Ini akan semakin menyakitkan, karena pasti ia meninggalkanku karena ia merasa bahwa aku benar-benar bukan miliknya. Tiba-tiba satu hal yang membuatku takut; aku takut ia menceraikanku. Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya.
Aku segera beranjak pergi setelah panitia yang memberitahuku lenyap dibalik panggung. Aku sudah tak peduli lagi dengan keberadaan Kafi. Spontan pula, kutolak tadi tawaran panitia untuk mengantarku. Kujawab saja ia masih ada urusan, nanti ia akan kembali lagi. Aku berjalan tergesa-gesa meninggalkan gedung. Aku sangat khawatir. Bukan karena aku akan berjalan pulang sendiri, namun aku khawatir Ra Kiki akan marah. Kupercepat langkahku. Disetiap warung yang kulewati, aku selalu berharap Ra Kiki berada disana menungguku. Namun harapan itu tak pernah terwujud. Aku masih tak berhenti berharap.
“De, biar kuantar sampai rumah.” Kafi sudah berada disampingku dengan sepeda motornya. Aku tak mengubrisnya. Aku terus saja berjalan. Dan dia masih saja mengikutiku.
“De, naiklah. Ini sudah sangat malam.” Entah, aku merasa begitu membencinya sekarang. Aku menghentikan langkahku. Dengan geram kubilang padanya “Kau sudah menghancurkan hidupku. Apa sekarang kau juga akan menghancurkan rumah tanggaku? Tolong biarkan aku tenang. Aku sudah begitu sakit. Jangan tambah kesakitanku. Kumohon, pergilah!” Dadaku bergetar saat aku mengucapkannya. Air mataku pun tak lagi mampu kutahan. Semua meluap begitu saja. Kafi hanya diam mendengar perkataanku. Dia menatapku yang tengah menangis. Dia kaku, bisu. Aku pun telah kelu. Perlahan, kutinggalkan ia dengan air mata yang terus dan semakin deras mengalir. Belum jauh kumelangkah, kudengar kata terakhir Kafi sebelum akhirnya ia pergi meninggalkanku.
“Jangan menangis, De. Maafkan Kakak.”
Aku terus berjalan. Setiap langkah kaki rasanya sakit sekali. Bukan karena ada benda tajam yang menusuk-nusuk kakiku. Namun karena luka-luka yang selama ini kurasakan semakin menggerogoti seluruh tubuhku. Langkahku semakin terseok-seok. Aku sudah tak sanggup melangkahkan kaki lagi ketika kulihat seseorang tergeletak dengan sepeda motornya. Kukira, ia terjatuh dari sepeda motor dan pingsan. Aku menghampirinya dengan susah payah. Tempat ini begitu gelap. Aku pun tak mampu melihat wajah laki-laki yang pingsan di depanku, selain karena gelap juga karena ia berada pada posisi telungkup. Aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan. Berteriak minta tolong pun rasanya sia-sia, karena tempat ini sepi, ini pun sudah sangat larut. Aku mencoba membalikkan tubuh laki-laki yang pingsan itu, dan betapa kagetnya aku saat melihat wajahnya. Ra Kiki. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, menggotongnya ke rumah sakit pun aku tidak akan sanggup. Tiba-tiba satu hal terbesit dalam benakku. Dengan segera, kutinggalkan Ra Kiki, kulangkahkan kakiku yang sudah sangat lemah kembali ke rumah sakit, dekat kantor kecamatan. Walaupun rasa letih itu semakin menyengat tubuhku, namun rasa khawatirku mengalahkan semuanya. Rasa takutku kembali hadir. Takut Ra Kiki meninggalkanku. Sekarang, aku tidak khawatir Ra Kiki akan menceraikanku, namun aku hanya takut Ra Kiki kehilangan kehidupannya. Oh, tidak semoga ia selamat, bertahanlah, Ra!
Rumah sakit sudah di depan mata, tapi penglihatanku sudah tak terlalu jelas. Kakiku pun sudah tak mampu lagi kulangkahkan. Namun bayangan Ra Kiki begitu jelas, aku pun tak berhenti berusaha, hingga seorang suster kukira, mendekatiku dan menuntunku duduk.
“Suster, tolong suami saya. Dia kecelakaan.” Ucapku terbata-bata.
“Dimana suami Mbak sekarang?” Tanya suster itu.
“Lurus saja ke arah selatan. Nanti suster akan menemukannya tergeletak dengan sepedanya. Tolong dia suster, saya mohon.” Ucapku memelas.
“Ya Mbak, Mbak tunggu dulu disini.” Ucapnya kemudian meninggalkanku. Kesadaranku perlahan melemah, dan suara terakhir yang kedengar adalah suara ambulan. Aku lega dalam ketidak sadaranku.
Sinar matahari menyorot mukaku hingga aku terbangun. Aku tidak tahu, samalam aku tertidur atau malah pingsan. Tapi saat ini, seluruh otot-ototku perlahan-lahan mulai pulih. Aku mengedarkan pandangan. Tiba-tiba aku teringat kejadian semalam. Aku pun segera bergegas masuk rumah sakit untuk menemui Ra Kiki. Saat tengah berjalan perlahan-lahan, seorang suster menghampiriku. Mungkin dia suster yang semalam, pikirku. Dan benar, dia tersenyum padaku dan mengantarku ke ruang dimana Ra Kiki dirawat.
“Terima kasih, Suster.” Ucapku sambil menyunggingkan senyum pucat padanya. Suster itu pun membalas senyumku, lalu pergi meninggalkanku. Kini, Ra Kiki tengah berada di depanku. Tergeletak lemas. Mukanya pucat. Tapi paling tidak, aku sudah merasa lebih tenang karena ia sudah mendapat perawatan dari para dokter. Kuusap-usap kepalanya yang sedikit hangat. Sudah lama aku ingin menyentuhnya begini, namun aku selalu ragu. Aku taku dia marah. Namun saat ini, aku beranikan diri menyentuhnya. Rasa sayangku mengalahkan segalanya. Disini, cintaku membuncah. Wajahnya yang begitu damai, membuatku tak henti-hentinya berucap syukur karena Tuhan telah menakdirkan kebersamaan antara kami. Meskipun dia masih belum mampu menerimaku apa adanya. Tapi aku pun yakin, sebenarnya cintanya begitu besar terhadapku hingga ia pun masih mau mempertahankan pernikahan ini, sekalipun ia masih tak mampu meyakinkan dirinya bahwa aku sudah menjadi miliknya. Tapi sudahlah, begini saja sudah merupakan anugerah besar yang Tuhan berikan kepadaku. Alhamdulillah.
Sudah Dhuhur, tapi Ra Kiki belum juga sadar. Aku menunggunya di luar ruangan. Tiba-tiba seorang perawat membangunkanku. Rupanya aku ketiduran setelah aku shalat dhuhur tadi. Perawat itu memberi kabar gembira, bahwa Ra Kiki sudah siuman. Aku segera beranjak masuk ke ruangannya. Ia masih terlihat lemas sekali. Wajahnya masih sama, pucat. Aku menghampirinya.
“Apa yang Ra rasakan?” Tanyaku membuka percakapan.
“Aku baik-baik saja.” Jawabnya. Pendek, namun tetap hangat.
Aku bingung harus melakukan apa. Kulihat semangkok bubur di meja. Segera kusadari bahwa Ra belum makan, segera kuambil semangkok bubur tersebut.
“Makan dulu, Ra.” Ucapku seraya menyodorkan sesuap bubur padanya. Ra menerima suapanku. Ia membuka mulut dan memakan bubur yang aku sodorkan. Senang sekali rasanya.
“Kamu sudah makan?” Tanyanya disela-sela makannya.
“Setelah ini, Ra. Aku bisa keluar habis Ra makan.” Jawabku semakin bersemangat. Tak ada percakapan lagi setelah itu hingga Ra selesai makan. Aku segera pamit untuk keluar membeli makanan sebentar. Dengan dada bahagia aku berjalan mencari makan. Dan dengan lahapnya, aku makan di warung seberang jalan. Setelah selesai, segera aku kembali menemui Ra. Dia tengah berbaring, menatap atap rumah sakit. Perlahan aku menghampirinya.
“Istirahat dulu, Ra.” Ucapku seraya membetulkan selimutnya. Ia mengalihkan pandangan terhadapku.
“Maafkan aku, Dil. Semalam aku meninggalkanmu.” Ia memulai. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Senyum yang kupaksakan.
“Tidak apa-apa, Ra. Aku paham mengapa Ra bersikap begitu.” Ucapku nyeri. Aku tak berani menatap Ra setelah itu.
“Apa yang kamu bicarakan semalam dengan Kafi?” Pertanyaan itu sedikit mengusikku. Namun aku senang karena dia sudah mulai mencampuri urusanku sebagai istrinya. Sikap yang seharusnya ia tunjukkan dari awal.
“Tidak ada, dia hanya minta maaf.” Jawabku dengan nada mencandainya. Dia tersenyum melihat ekspresiku. Aku semakin senang.
“Ra, kenapa kau menikahiku?” Tanyaku membuat suasana kembali beku. Ra Kiki diam. Namun wajahnya tetap hangat. Jadi meskipun sehening ini, aku masih merasa tenang.
“Aku sayang sama kamu, Dil.” Jawabnya setelah sekian lama ia diam. Aku tersenyum mendengarnya. Sedangkan dia malah menundukkan wajah. Ternyata dia tidak berubah. Dari dulu, ia masih saja laki-laki pemalu.
“Kamu?” Tanyanya kemudian. Pertanyaannya membuatku malu.
“Sama Ra, aku juga sayang sama Ra.” Jawabku dengan malu-malu desertai sikap spontanku menundukkan wajah. Tiba-tiba, aku merasakan tanganku digenggamnya. Hatiku begitu hangat.
“Kenapa tidak dari dulu kau bilang?” Tanyanya kemudian. Aku merasa tergelitik dengan pertanyaannya.
“Kenapa juga Ra tidak menanyakannya?” Aku balik tanya, menggodanya. Ia hanya tersenyum dan mencubit hidungku. Tiba-tiba aku teringat Kafi yang dulu juga sering mencubit hidungku, namun segera kubuang perasaan itu. Ini adalah hari bahagiaku. Dan tak boleh ada lagi yang mengacaukannya.
“Kau milikku, Dila. Hanya milikku.” Ucapnya kemudian seraya membawaku dalam pelukannya. Oh, pelukan ini yang amat kurindukan. Pelukan suami yang amat kusayangi dan menyayangiku. Ra Kiki.

SEKIAN

Tidak ada komentar: