“Aku sudah mencobanya.”
“Mencoba apa? Kalau kau sudah mencoba memahamiku, seharusnya kau
tak akan pernah lagi bersikap begitu.” Ia membentak. Dan aku hanya bisa diam.
Tak akan ada gunanya lagi mengeluarkan pendapat, sekalipun aku berada dipihak
yang benar karena ia hanya mau menang sendiri. Sikap itu yang tidak aku suka,
dan sejak kita memulai hubungan 3 tahun yang lalu, ia bahkan tak pernah
berusaha mengubah sikapnya.
Aku bungkam. Pulang dengan perasaan tak menentu antara kesal dan
rasa sayang. Kuberjalan tergesa-gesa, hatiku menuntut untuk segera pulang dan
meluapkannya di fb. Itulah satu-satunya jalan yang bisa aku tempuh untuk
meluakan segalanya, karena hidupku sekarang bukanlah hidupku yang dulu. Tak ada
seorang pun yang mampu kupercaya di dunia nyata.
“Aku sudah mencobanya. Mencoba memahami engkau. Tapi pernahkan
sekali pun kau menghargai usahaku? Pernahkah engkau mencoba memahamiku pula?
Aku capek begini terus. Menghadapi engkau yang hanya mau dipahami tanpa mau
memahami.” Begitulah statusku setelah pertemuan terakhirku dengannya disebuah
taman dipusat kota. Dan setelah itu, kita tak pernah bertemu lagi. Entah
bagaimana hubungan kita, semuanya seakan telah berakhir tanpa kata.
Sakit sekali rasanya digantung, sedangkan rasa sayang itu masih
melekat dalam dada. Namun satu hal lagi yang membuat rasa sakit itu semakin
perih; aku sudah tidak perawan lagi. Aku seakan tak punya kesempatan lagi untuk
memiliki cinta. Tak akan mungkin ada lagi yang mau menjadikanku pendamping
hidupnya, karena aku sudah menjadi wanita hina. Dia benar-benar telah
menghancurkan hidupku.
Sulit sekali menjalani ini seorang diri. Namun aku sudah bertekat
untuk tetap bertahan, meskipun pada akhirnya aku harus hidup sebatangkara
selama hidupku. Namun rupanya Tuhan punya rencana lain untuk hidupku. Tak lama
setelah kejadian itu, seseorang melamarku. Seseorang yang sejak dulu aku kagumi
karena kecerdasan dan sikapnya yang begitu sopan. Hanya sekedar kagum. Bukan
cinta. Sudah sejak sekolah dasar aku mengaguminya. Bahkan dulu, kita sempat
dikabarkan memiliki hubungan. Meskipun sebenarnya tidak sama sekali. Bagi dia,
berpacaran merupakan hal yang tidak mungkin karena ia begitu patuh kepada
keluarganya. Keluarganya, bagiku bukan keluarga biasa. Mereka adalah keturunan
darah biru, dan mereka juga bisa mengetahui apapun yang ingin mereka ketahui
tanpa menanyakan pada orangnya. Aku sering merasa kikuk saat berada di sekitar
keluarganya, karena aku bukan lagi Dila yang polos dan suci. Bahkan sekarang
pun, aku menjadi Dila tanpa harga diri. Tanpa keperawanan lagi. Dan itu karena
orang yang sampai saat ini masih kusayangi, sayangnya ia telah pergi. Kafi.
“Dia sudah tidak perawan, Ra.” Ucap ibuku kepada Ra Kiki, orang
yang melamarku saat tinggal mereka berdua di ruang tamu. Sedangkan aku,
mengupingnya dari dalam kamar yang dekat dengan ruang tamu. Aku memang sengaja
menyuruh ibu yang sebenarnya pada saat itu sangat marah mengetahui aku sudah
tidak perawan. Namun beliau pun tak mampu mengusirku. Aku melakukan itu semua
karena aku tidak ingin menjadikan orang lain korban atas kesalahanku. Hening
sejenak. Tak ada satu suara pun dari Ra Kiki maupun ibu. Aku sudah pasrah.
Walaupun awalnya aku berharap Ra Kiki mau menerimaku apa adanya, tapi dikala
hening seperti ini, dikala Ra Kiki masih dengan pikirannya sendiri rasa takut
itu muncul, dan akhirnya aku pasrah. Pasrah pada apa yang akan Ra Kiki
putuskan.
Wanita mana yang tidak ingin menikah semasa hidupnya? Sekalipun ia sudah
menjadi wanita hina. Tapi apa yang bisa kulakukan sedangkan aku sudah tak punya
hal spesial yang akan aku berikan kepada suamiku kelak? Selain kepasrahan
tentunya. Selain ketaatan. Namun siapa yang mau menjadikanku istrinya? Aku
sudah kotor.
Banyak sekali hal yang aku pikirkan sejak keheningan antara ibu dan
Ra Kiki tercipta. Luka yang masih menganga itu kian bernanah. Semakin perih
rasanya. Dan tak tertahankan. Tak ada pilihan lain, akhirnya satu-satunya
pelarianku hanyalah menangis. Menangisi apa yang telah terjadi. Menangisi
kecerobohanku. Menangisi kekalahanku. Sungguh, dari sini aku tahu bahwa aku
bukan wanita tegar.
“Saya sudah tahu sebelumnya. Saya dan keluarga juga sudah
mempertimbangkannya. Saya akan tetap menikahinya, Bu.” Ucap Ra Kiki pada
akhirnya.
Ucapannya lirih, namun tak membuatku ragu. Lirih namun mantap.
Kalimat syukur terus kulantunkan. Air mataku kini semakin deras, namun bukan
lagi karena sakit, melainkan haru. Sungguh, setelah keterpurukanku, tak
sedikitpun terpikir bahwa Ra Kiki akan datang dengan cintanya yang tulus. Namun
apa benar ia mencintaiku? Jangan-jangan ia hanya kasihan terhadapku yang sudah
hina ini? Tapi aku sudah tak peduli, kebahagiaan ini menutupi segalanya. Aku
sangat bersyukur, terima kasih Tuhan!
Sudah satu bulan kami menikah. Aku begitu bahagia berada di
dekatnya. Aku merasa begitu damai memandangnya. Ia seperti seorang malaikat.
Kebahagiaan ini, sedikit demi sedikit mengobati hatiku yang lara.
Perlahan-lahan, Kafi mulai menghilang dari hatiku. Kalimat syukur itu, tak
pernah sekalipun lupa kupanjatkan. Kalimat syukur itulah yang juga membuatku
merasa bahwa ini sudah lebih dari cukup. Bahwa keadaan seperti ini sudah
terlalu sempurna bagiku sebagai wanita hina.
Aku tidak memaksa hatiku untuk tetap bersuka cita, karena aku pun
tahu diri. Aku menyadari siapa diriku. Memang sebaiknya aku tidak berharap
banyak. Aku tidak mempersoalkannya. Aku sudah cukup lega menjadi istri Ra Kiki,
meskipun ada satu hal yang membuatku tidak bisa untuk tidak sakit. Sejak
pernikahan kami, hingga bulan pertama ini, tak sedikit pun Ra Kiki menyentuhku
secara sengaja, kecuali pada saat bersalaman sehabis shalat, atau ketika ia
akan pergi dan pulang kembali ke rumah. Kami memang tidur seranjang. Namun Ra
Kiki tidak pernah sekalipun tidur menghadapku. Ia hanya tidur terlentang, atau
membelakangiku. Wajar jika aku merasa sakit diperlakukan seperti itu, namun aku
tak seharusnya berharap banyak. Sudah untung dia mau menikahiku.
Dua bulan sudah kami menikah, namun suasana dan sikapnya masih saja
belum berubah, hingga rasa sakit itu semakin membuatku tersiksa. Hingga suatu
pagi dihari libur, ia sedang membaca buku di kamar. Setelah selesai semua
pekerjaan dapur, aku putuskan untuk mendekatinya dan membicarakan segalanya.
Ia tersenyum saat menyadari aku duduk di sampingnya. Namun
kemudian, ia kembali mengalihkan perhatian pada buku yang dibacanya. Sedangkan
aku masih terus diam, tak tahu harus memulai pembicaraan ini darimana.
“Ra, bisa kita bicara sebentar?” Tanyaku ragu.
“Ya, silahkan!” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.
“Kenapa Ra tidak pernah menyentuhku layaknya suami istri.” Aku
semakin gugup. Ia terdiam sejenak, lalu menutup buku yang ia baca dan
meletakkannya.
“Maafkan aku, Dila.” Ucapnya tanpa melihatku. “Aku masih tidak
bisa.” Lanjutnya setelah mengambil nafas panjang. Aku hanya mengerutkan kening.
Sungguh, aku tidak paham apa yang sedang ia bicarakan. “Kamu seakan bukan
milikku.” Tiba-tiba aku memahami apa yang sedang ia bicarakan. Aku memahami apa
yang ia maksud. Dan rasanya sakit sekali. Aku mencoba menahan sakit itu,
sayangnya air mataku tak mampu kutahan. Ia mengalir deras.
“Tidak apa-apa, Ra. Memang seharusnya Ra tidak menikahiku. Aku juga
sadar diri, bahwa seharusnya yang Ra dapatkan bukan aku, melainkan perempuan
baik-baik dan masih suci.” Setelah mengucapkan kalimat itu, aku segera bangkit
meninggalkan Ra sendirian di kamar. Aku berjalan ke dapur dengan rasa sakit
yang begitu mencekam. Aku menangis sepuasnya di dapur. Luka lama itu, kembali
bernanah.
Semakin hari, luka di hati semakin tak tersembuhkan. Ia merebak
kemana-mana. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari kegiatan yang mampu
mengalihkan perhatianku. Dan satu-satunya hal yang bisa aku lakukan di rumah,
dan itu mampu meredam kesakitanku hanyalah menulis. Setiap hari, aku intens
menulis. Entah itu puisi, cerpen, opini, atau resensi. Dan tak lupa pula
kukirimkan karyaku ke media massa seperti koran. Hingga suatu hari, aku
menyelesaikan sebuah novel. Dengan berbekal keberanian, kukirim naskah novelku
ke sebuah penerbit terkemuka. Setiap hari aku menantinya. Namun, selalu kecewa.
Suatu pagi, saat tengah sibuk memasak, tiba-tiba hpku berdering. Ra
sedang mandi. Dengan setengah berlari, aku mengambil hp di kamar. Nomor baru,
tanpa pikir panjang, kuangkat telpon tersebut.
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikum salam, apa benar ini dengan Mbak Dila?” Tanyanya dari
seberang.
“Ya benar, ini siapa?”Jawabku dengan napas masih terengah-engah.
“Begini bu, ini mengenai naskah novel yang ibu kirimkan beberapa
bulan lalu. Oh ya maaf, saya dari penerbit A. Kami sudah mempertimbangkan
naskah ibu, dan menurut kami, naskah ibu layak dibukukan.” Tiba-tiba semua
hening, aku masih kaget. Ini seperti mimpi. Aku telah menunggunya berhari-hari.
Dan akhirnya, penantianku tidak sia-sia. Aku begitu senang. Setelah telpon
ditutup, aku segera menuju kamar madi. Ra masih di dalam.
“Ra, aku ingin minta izin.” Teriakku.
“Ya, sebentar lagi aku keluar, Dila.” Jawabnya dari dalam.
Dengan masih semangat, aku kembali ke dapur. Kebahagiaan ini serta
merta menghapus segala kesedihan yang setiap hari menggerogoti dada. Tak sabar
rasanya ingin menceritakan segalanya kepada Ra. Meskipun nantinya respons Ra
akan biasa-biasa saja, tidak apa-apa. Aku hanya ingin membagi kebahagiaanku
dengan orang yang begitu kusayang.
“Ada apa, Dila?” Tanyanya saat aku menemuinya di kamar. Aku
ceritakan apa yang aku alami tadi. Dan seperti yang aku duga, Ra hanya
mengangguk-angguk.
“Apa tidak apa-apa bukuku diterbitkan, Ra?” Tanyaku dengan hati tak
karuan.
“Dila, lakukan apapun yang bisa kamu lakukan. Aku akan selalu
mendukungmu.” Mendengar jawabannya, aku sangat bahagia. Ingin rasanya kupeluk
ia, namun aku tidak bisa. Aku masih takut.
Bukuku sudah tersebar di toko-toko buku. Aku begitu bahagia.
Akhirnya aku menjadi penulis. Cita-citaku sejak dulu. Besok, aku diundang untuk
menjadi narasumber dalam acara bedah buku pertamaku. Tak jauh-jauh, hanya di
gedung B dekat kantor kecamatan.
Tepat di depan gedung A aku berdiri sekarang. Ra yang mengantarku,
dan sekarang, ia harus pergi karena harus mengunjungi gurunya yang tengah
sakit. Nanti, ia berjanji akan menjemputku kembali.
Banyak sekali yang datang malam ini. Aku sempat gugup, namun
kebanggaanku mengalahkan segalnya. Aku masih di belakang panggung. Berusaha
menenangkan kegugupanku. Kukatakan pada diriku bahwa hari ini, aku adalah orang
yang paling hebat. Ini bukan kalimat kesombongan, namun ini kalimat penguat
diri. Bismillah.
Ada banyak hal yang aku ceritakan di depan para audiens. Namun satu
hal yang tetap kujaga, aku tidak ingin menceritakan kesakitanku akan sikap Ra
padaku. Jadi, kuungkap saja hal-hal menyenangkan mengenai buku yang kubuat. Buku
yang mengisahkan seorang perempuan yang dalam hidupnya selalu mengeluh dan tak
punya pendirian, kemudian ia bertemu dengan seorang perempuan lain yang
mengajarkan keteguhan bagi dirinya. Intinya, aku berharap tidak ada orang lain
lagi yang berkecil hati saat ia berada pada posisi tersulit sekalipun. Atau
bisa saja dikatakan bahwa buku ini salah satu motivasi bagiku untuk kuat. Buku
percakapan diri.
Hampir satu jam aku berbicara di depan dengan beberapa lelucon yang
kubuat. Rupanya aku masih belum berubah. Bagiku, menjadi orang yang serius
sangatlah sulit. Pasti ada saja lelucon yang membuat orang lain tertawa.
Meskipun kadang-kadang lelucon-lelucon itu secara spontan keluar dari diriku.
Sekarang waktunya sesi tanya. Aku sudah merasa nyaman dengan keadaanku. Aku
tidak lagi merasa grogi, semua yang ada disini aku anggap teman yang sudah lama
tak berjumpa. Mekipun sedikit yang aku kenali.
“Saya ingin menanyakan satu hal kepada narasumber mengenai
pendapatnya di buku ini, apa benar teori dalam buku ini mampu membuat diri
tangguh? Kalau ya, tolong ceritakan darimana penulis mampu merumuskan
teori-teori ini! Terima kasih.” Ucap penanya terakhir.
‘Deg’
Suara itu, suara yang sangat kukenal. Cara bicara yang amat lekat
ditelingaku. Suara yang dulu selalu kurindukan. Spontan aku mengangkat wajah,
rasa penasaran itu begitu kuat. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku sedang
berhalusinasi. Namun rupanya aku salah. Ini bukan halusinasi, ia sekarang
berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Pandangan matanya masih sama seperti
dulu. Kafi. Tapi, Astaghfirullah, kita sudah beda jalan.
Hatiku mulai terusik. Ketenanganku terusik kembali. Kujawab
pertanyaan-pertanyaan dengan hati tak karuan. Apalagi ketika tiba saat aku
harus menjawab pertanyaannya, dengan kegugupan yang semakin menjadi, kujawab,
kuceritakan pengalaman pahitku dengan mengubah beberapa alur yang menurutku tak
perlu diceritakan kepada siapapun.
Akhirnya, selesai juga bedah bukuku kali ini. Ini pun juga
mengakhiri kegugupanku. Aku segera menuju belakan panggung, sambil menunggu Ra
Kiki menjemputku. Tapi hingga hanya ada panitia penyelenggara yang melakukan
evaluasi dari acara tadi, Ra Kiki belum juga datang. Aku agak khawatir. Tapi
entah khawatir karena apa. Tiba-tiba kekhawatiranku terjawab. Kafi muncul dari
depan panggung. Aku semakin tak karuan. Entah, kenapa aku begitu gugup. Yang
jelas, dalam kekhawatiranku, aku begitu merindukan Ra Kiki. Aku memandang lekat
Kafi. Namun pikiranku berada di tempat Ra Kiki berada.
“Bagaimana kabarmu, De?” Tanyanya membuka kebekuan saat ia sudah
duduk di depanku. Aku kaget sekaligus haru, dia masih memanggilku dengan
panggilan “Dede”. Dulu, itu adalah sapaan sayang yang dia berikan padaku.
“Baik.” Jawabku pendek.
“Apa kau bahagia, De?” pertanyaannya menggetarkanku.
“Ya, tentu saja.” Jawabku tertekan. Dia hanya mengangguk. Aku
mengalihkan pandangan, berharap Ra Kiki segera datang menjemput.
“Maafkan Kakak, De. Apa yang terjadi pada hubungan kita itu memang
salah Kakak.” Ucapnya lirih. Hatiku bergetar mendengarnya mengungkap masa lalu.
Masa lalu yang hingga kini sakitnya masih terasa. Dan saat ini, ia membuka
kembali luka hingga sakitnya terasa semakin perih. Tiba-tiba aku ingin
mengadukan semua yang terjadi dalam rumah tanggaku seperti halnya dulu ketika
aku menghadapi kesulitan, maka dialah yang mampu kuajak bicara. Dia yang mau
kuajak berbagi. Namun aku sadar, dia bukan lagi milikku. Dia bukan
siapa-siapaku lagi. Akhirnya kupilih diam saja.
“Tapi bisakah kita menjadi seperti dulu? Kakak sungguh menyesal
telah meninggalkan Dede begitu saja. Kakak sungguh kecewa pada diri Kakak
sendiri karena telah mengingkari prinsip Kakak sendiri. Masih ingat prinsip
Kakak, De? Hanya Dede yang akan Kakak nikahi. Kembalilah, dan penuhi apa yang
sudah menjadi prinsip Kakak, De.” Ia berkata panjang lebar. Kalimat yang dari
dulu kutunggu, namun baru ia lontarkan sekarang. Ia sungguh egois. Luka itu,
rasanya semakin perih. Namun cinta itu tak lagi sebesar dulu. Ada lebih banyak
kebencian padanya dalam diriku. Sungguh, ia manusia yang paling egois.
“Lo, Mbak Dila, kok belum pulang? Bukankah tadi Ra Kiki sudah
kesini?” Ucap seorang panitia dari balik panggung.
“Kemana dia sekarang?” Tanyaku terkejut.
“Beliau sudah pulang. Saya kira tadi beliau bertemu dengan anda.”
Mendengar penjelasannya, aku bergidik. Jangan-jangan ia melihat dan mendengar
percakapanku dengan Kafi. Ini akan semakin menyakitkan, karena pasti ia
meninggalkanku karena ia merasa bahwa aku benar-benar bukan miliknya. Tiba-tiba
satu hal yang membuatku takut; aku takut ia menceraikanku. Tidak, aku tidak
akan membiarkan itu terjadi. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayang
untuk kedua kalinya.
Aku segera beranjak pergi setelah panitia yang memberitahuku lenyap
dibalik panggung. Aku sudah tak peduli lagi dengan keberadaan Kafi. Spontan
pula, kutolak tadi tawaran panitia untuk mengantarku. Kujawab saja ia masih ada
urusan, nanti ia akan kembali lagi. Aku berjalan tergesa-gesa meninggalkan
gedung. Aku sangat khawatir. Bukan karena aku akan berjalan pulang sendiri,
namun aku khawatir Ra Kiki akan marah. Kupercepat langkahku. Disetiap warung
yang kulewati, aku selalu berharap Ra Kiki berada disana menungguku. Namun
harapan itu tak pernah terwujud. Aku masih tak berhenti berharap.
“De, biar kuantar sampai rumah.” Kafi sudah berada disampingku
dengan sepeda motornya. Aku tak mengubrisnya. Aku terus saja berjalan. Dan dia
masih saja mengikutiku.
“De, naiklah. Ini sudah sangat malam.” Entah, aku merasa begitu
membencinya sekarang. Aku menghentikan langkahku. Dengan geram kubilang padanya
“Kau sudah menghancurkan hidupku. Apa sekarang kau juga akan menghancurkan
rumah tanggaku? Tolong biarkan aku tenang. Aku sudah begitu sakit. Jangan
tambah kesakitanku. Kumohon, pergilah!” Dadaku bergetar saat aku
mengucapkannya. Air mataku pun tak lagi mampu kutahan. Semua meluap begitu
saja. Kafi hanya diam mendengar perkataanku. Dia menatapku yang tengah
menangis. Dia kaku, bisu. Aku pun telah kelu. Perlahan, kutinggalkan ia dengan
air mata yang terus dan semakin deras mengalir. Belum jauh kumelangkah, kudengar
kata terakhir Kafi sebelum akhirnya ia pergi meninggalkanku.
“Jangan menangis, De. Maafkan Kakak.”
Aku terus berjalan. Setiap langkah kaki rasanya sakit sekali. Bukan
karena ada benda tajam yang menusuk-nusuk kakiku. Namun karena luka-luka yang
selama ini kurasakan semakin menggerogoti seluruh tubuhku. Langkahku semakin
terseok-seok. Aku sudah tak sanggup melangkahkan kaki lagi ketika kulihat
seseorang tergeletak dengan sepeda motornya. Kukira, ia terjatuh dari sepeda
motor dan pingsan. Aku menghampirinya dengan susah payah. Tempat ini begitu
gelap. Aku pun tak mampu melihat wajah laki-laki yang pingsan di depanku,
selain karena gelap juga karena ia berada pada posisi telungkup. Aku
benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan. Berteriak minta tolong pun rasanya
sia-sia, karena tempat ini sepi, ini pun sudah sangat larut. Aku mencoba
membalikkan tubuh laki-laki yang pingsan itu, dan betapa kagetnya aku saat
melihat wajahnya. Ra Kiki. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, menggotongnya
ke rumah sakit pun aku tidak akan sanggup. Tiba-tiba satu hal terbesit dalam
benakku. Dengan segera, kutinggalkan Ra Kiki, kulangkahkan kakiku yang sudah
sangat lemah kembali ke rumah sakit, dekat kantor kecamatan. Walaupun rasa
letih itu semakin menyengat tubuhku, namun rasa khawatirku mengalahkan
semuanya. Rasa takutku kembali hadir. Takut Ra Kiki meninggalkanku. Sekarang,
aku tidak khawatir Ra Kiki akan menceraikanku, namun aku hanya takut Ra Kiki
kehilangan kehidupannya. Oh, tidak semoga ia selamat, bertahanlah, Ra!
Rumah sakit sudah di depan mata, tapi penglihatanku sudah tak
terlalu jelas. Kakiku pun sudah tak mampu lagi kulangkahkan. Namun bayangan Ra
Kiki begitu jelas, aku pun tak berhenti berusaha, hingga seorang suster kukira,
mendekatiku dan menuntunku duduk.
“Suster, tolong suami saya. Dia kecelakaan.” Ucapku terbata-bata.
“Dimana suami Mbak sekarang?” Tanya suster itu.
“Lurus saja ke arah selatan. Nanti suster akan menemukannya
tergeletak dengan sepedanya. Tolong dia suster, saya mohon.” Ucapku memelas.
“Ya Mbak, Mbak tunggu dulu disini.” Ucapnya kemudian
meninggalkanku. Kesadaranku perlahan melemah, dan suara terakhir yang kedengar
adalah suara ambulan. Aku lega dalam ketidak sadaranku.
Sinar matahari menyorot mukaku hingga aku terbangun. Aku tidak
tahu, samalam aku tertidur atau malah pingsan. Tapi saat ini, seluruh
otot-ototku perlahan-lahan mulai pulih. Aku mengedarkan pandangan. Tiba-tiba
aku teringat kejadian semalam. Aku pun segera bergegas masuk rumah sakit untuk
menemui Ra Kiki. Saat tengah berjalan perlahan-lahan, seorang suster
menghampiriku. Mungkin dia suster yang semalam, pikirku. Dan benar, dia
tersenyum padaku dan mengantarku ke ruang dimana Ra Kiki dirawat.
“Terima kasih, Suster.” Ucapku sambil menyunggingkan senyum pucat
padanya. Suster itu pun membalas senyumku, lalu pergi meninggalkanku. Kini, Ra
Kiki tengah berada di depanku. Tergeletak lemas. Mukanya pucat. Tapi paling
tidak, aku sudah merasa lebih tenang karena ia sudah mendapat perawatan dari
para dokter. Kuusap-usap kepalanya yang sedikit hangat. Sudah lama aku ingin
menyentuhnya begini, namun aku selalu ragu. Aku taku dia marah. Namun saat ini,
aku beranikan diri menyentuhnya. Rasa sayangku mengalahkan segalanya. Disini,
cintaku membuncah. Wajahnya yang begitu damai, membuatku tak henti-hentinya
berucap syukur karena Tuhan telah menakdirkan kebersamaan antara kami. Meskipun
dia masih belum mampu menerimaku apa adanya. Tapi aku pun yakin, sebenarnya
cintanya begitu besar terhadapku hingga ia pun masih mau mempertahankan
pernikahan ini, sekalipun ia masih tak mampu meyakinkan dirinya bahwa aku sudah
menjadi miliknya. Tapi sudahlah, begini saja sudah merupakan anugerah besar
yang Tuhan berikan kepadaku. Alhamdulillah.
Sudah Dhuhur, tapi Ra Kiki belum juga sadar. Aku menunggunya di
luar ruangan. Tiba-tiba seorang perawat membangunkanku. Rupanya aku ketiduran
setelah aku shalat dhuhur tadi. Perawat itu memberi kabar gembira, bahwa Ra
Kiki sudah siuman. Aku segera beranjak masuk ke ruangannya. Ia masih terlihat
lemas sekali. Wajahnya masih sama, pucat. Aku menghampirinya.
“Apa yang Ra rasakan?” Tanyaku membuka percakapan.
“Aku baik-baik saja.” Jawabnya. Pendek, namun tetap hangat.
Aku bingung harus melakukan apa. Kulihat semangkok bubur di meja.
Segera kusadari bahwa Ra belum makan, segera kuambil semangkok bubur tersebut.
“Makan dulu, Ra.” Ucapku seraya menyodorkan sesuap bubur padanya.
Ra menerima suapanku. Ia membuka mulut dan memakan bubur yang aku sodorkan.
Senang sekali rasanya.
“Kamu sudah makan?” Tanyanya disela-sela makannya.
“Setelah ini, Ra. Aku bisa keluar habis Ra makan.” Jawabku semakin
bersemangat. Tak ada percakapan lagi setelah itu hingga Ra selesai makan. Aku
segera pamit untuk keluar membeli makanan sebentar. Dengan dada bahagia aku
berjalan mencari makan. Dan dengan lahapnya, aku makan di warung seberang
jalan. Setelah selesai, segera aku kembali menemui Ra. Dia tengah berbaring,
menatap atap rumah sakit. Perlahan aku menghampirinya.
“Istirahat dulu, Ra.” Ucapku seraya membetulkan selimutnya. Ia
mengalihkan pandangan terhadapku.
“Maafkan aku, Dil. Semalam aku meninggalkanmu.” Ia memulai. Aku hanya
tersenyum mendengarnya. Senyum yang kupaksakan.
“Tidak apa-apa, Ra. Aku paham mengapa Ra bersikap begitu.” Ucapku
nyeri. Aku tak berani menatap Ra setelah itu.
“Apa yang kamu bicarakan semalam dengan Kafi?” Pertanyaan itu
sedikit mengusikku. Namun aku senang karena dia sudah mulai mencampuri urusanku
sebagai istrinya. Sikap yang seharusnya ia tunjukkan dari awal.
“Tidak ada, dia hanya minta maaf.” Jawabku dengan nada mencandainya.
Dia tersenyum melihat ekspresiku. Aku semakin senang.
“Ra, kenapa kau menikahiku?” Tanyaku membuat suasana kembali beku.
Ra Kiki diam. Namun wajahnya tetap hangat. Jadi meskipun sehening ini, aku
masih merasa tenang.
“Aku sayang sama kamu, Dil.” Jawabnya setelah sekian lama ia diam.
Aku tersenyum mendengarnya. Sedangkan dia malah menundukkan wajah. Ternyata dia
tidak berubah. Dari dulu, ia masih saja laki-laki pemalu.
“Kamu?” Tanyanya kemudian. Pertanyaannya membuatku malu.
“Sama Ra, aku juga sayang sama Ra.” Jawabku dengan malu-malu
desertai sikap spontanku menundukkan wajah. Tiba-tiba, aku merasakan tanganku
digenggamnya. Hatiku begitu hangat.
“Kenapa tidak dari dulu kau bilang?” Tanyanya kemudian. Aku merasa
tergelitik dengan pertanyaannya.
“Kenapa juga Ra tidak menanyakannya?” Aku balik tanya, menggodanya.
Ia hanya tersenyum dan mencubit hidungku. Tiba-tiba aku teringat Kafi yang dulu
juga sering mencubit hidungku, namun segera kubuang perasaan itu. Ini adalah
hari bahagiaku. Dan tak boleh ada lagi yang mengacaukannya.
“Kau milikku, Dila. Hanya milikku.” Ucapnya kemudian seraya
membawaku dalam pelukannya. Oh, pelukan ini yang amat kurindukan. Pelukan suami
yang amat kusayangi dan menyayangiku. Ra Kiki.
SEKIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar